Perasaan Bersalah

merasa bersalah - momen inspirasi - delapina property gading serpong

Hukuman yang paling berat sebenarnya bukanlah hukuman mati atau hukuman badan seumur hidup. Dua jenis hukuman tadi tidak sebanding dengan perasaan bersalah yang ada dalam diri seseorang, setelah ia melakukan kejahatan. Sayangnya, tidak banyak orang yang berhasil menyelesaikan “perasaan bersalahnya”. Mereka memang dapat sejenak melupakan atau menutupi perasaan bersalahnya, tetapi hal itu akan kembali lagi. Akibatnya, banyak orang bunuh diri tanpa sebab, tetapi sebenarnya bukan tanpa sebab, melainkan karena ia sudah tidak tahan dikejar rasa bersalah.

Mereka menemukan tulang belulang seorang pelaut di sisi tempat perlindungan, di sebuah pulau terpencil di Atlantik Tengah. Ia adalah pelaut yang tidak dikenal dan membuat buku harian dengan rinci selama 4 bulan. Ia berangkat dari Pulau Ascencion dengan kapal Belanda pada 1725 karena kejahatan yang tidak diungkap. Selama pelarian, ia harus minum darah penyu untuk menghilangkan rasa haus. Penderitaan tubuh lelaki ini sangat berat, tetapi penderitaan lebih besar yang tertulis dalam buku hariannya adalah perasaan bersalah yang menguasainya. Ia menuliskan kata-kata berikut: “Taring apa yang dirasakan manusia fana yang meninggalkan jalan kebenaran, dengan suka hati menambahkan jumlah orang yang terkutuk.”

Keterasingan pelaut ini di pulau sepi disebabkan oleh perpisahan dan rasa bersalahnya kepada Tuhan. Inilah hal yang ternyata tidak tertahankan pada akhirnya. Ia bisa tahan tidak minum air dan hanya minum darah penyu; ia tahan hidup kekurangan makan, tetapi ia tidak tahan menanggung rasa bersalah yang sangat dalam.

Setelah membaca kisah tersebut, saya sering bertanya, mengapa pelaut ini tidak datang pada Tuhan dan meminta pengampunan-Nya? Bukankah Tuhan kita Maha Pengampun?

Read More Posts from Momen Inspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *