Siapa yang Tuli?

siapa merasa tuli - momen inspirasi - delapina property gading serpong

Siapa yang tuli???

Gajah di pelupuk mata tidak terlihat, tetapi kuman di seberang lautan terlihat jelas. Itulah manusia dengan segala kesombongannya.

Tidak heran jika perubahan merupakan hal yang tersulit yang dapat dilakukan oleh manusia karena pada dasaranya, manusia selalu merasa paling benar. Jika sudah demikian, kadang kita berpikir, untuk apa lagi kita berubah?

Seorang pria menemui dokternya untuk mengatakan bahwa istrinya mungkin tuli; hal ini sudah menjadi keputusannya. Berulang kali ia mendapati bahwa istrinya merespons ucapannya. Setelah mendangar laporannya, dokter menyarankan supaya pria tersebut melakukan tes sederhana.

Caranya sangat mudah. Sebenarnya hal ini sudah berulang kali ia lakukan, tetapi karena si dokter menyarankannya, ia bersedia melakukannya lagi demi kesembuhan istrinya.

Sesampainya di pintu depan rumah, ia berseru, “Sayang, apakah makan malam sudah siap?” karena tidak mendengar jawaban, ia berjalan masuk ke rumah dan mengulangi lagi pertanyaan itu. Namun, tidak ada jawaban. Dalam usahanya yang ketiga, ketika pria itu berada tepat di belakang istrinya, akhirnya ia mendengar istrinya berkata, “untuk yang ketiga kalinya, kujawab ya!”

Bukankah hal ini sering terjadi dalam kehidupan? Sepertinya kita tidak pernah salah. Kesalahan selalu terletak pada orang lain. Inilah salah satu penyebab terjadinya perselisihan atau kemarahan tersembunyi yang akhirnya memicu pertengkaran dan keributan yang dapat menimbulkan kehancuran. Memang benar, kuman di seberang lautan dapat kita lihat, tetapi gajah di pelupuk mata tidak kelihatan. Benahi hidup kita maka sebagian besar masalah dalam hidup kita akan terselesaikan. Berubahlah dengan bijak seperti yang seharusnya maka Anda akan bahagia, Anda dan seisi rumah Anda.

Read More Posts from Momen Inspirasi

4 thoughts on “Siapa yang Tuli?

  1. Rio Hutagalung Reply

    yups… pointnya sangat menohok. karena tanpa sadar saya memang sering mencoba mengatur segala sesuatunya seperti apa yang saya mau atau perlu. tanpa sadar ternyata semuanya harus sesuai Ego saya.

  2. Audi Hambali Reply

    saya belajar untuk selalu merefleksikan diri sendiri dalam setiap keadaan, karena kadang kesalahan itu disebabkan oleh diri kita sendiri. Komunikasikan setiap hal dan buka hati terhadap koreksi

  3. Nancy Reply

    Jadi diingatkan bahwa, hidup itu butuh org lain yg memberitahukan “blind spot” yg ada di diri saya.. biasanya org yg bisa melihat hal itu adalah org yg terdekat dgn hidup saya..

    Tq Mimin..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *