Mengalah itu Indah

MENGALAH ITU INDAH! Banyak orang berpikir bahwa mengalah sama dengan kalah. Padahal, sekalipun kata dasarnya kelihatan sama, mengalah tidak sama dengan kalah. Ketika kalah, seseorang akan kehilangan sukacita dan merasa tertekan, tetapi tidak demikian dengan mengalah. Dengan mengalah, kita justru mendapatkan kelegaan.

Di tengah persaingan hidup yang keras, setiap orang berusaha tampak kuat. Mereka menghindari segala sesuatu yang menunjukkan kelemahan mereka. Tidak heran jika akibatnya banyak orang sulit untuk mengalah.

Dalam perjalanan pulang ke rumah saat “rush hour” (waktu sibuk), kemacetan merupakan menu utama. Dalam keadaan itu, mata kita selalu sigap melihat setiap celah yang ada agar kita dapat memajukan kendaraan dan segera sampai di tempat tujuan. Begitu ada celah kosong di jalan raya, kita berusaha merebutnya. Setiap pengemudi merasa itulah haknya. Saat kita bisa menempatkan kendaraan kita di celah itu, dalam hati kita ada rasa bangga. Sebaliknya, apabila mobil lain yang mengambil “celah” itu, hati kita merasa panas. Perjalanan yang seharusnya menyenangkan justru menjadi melelahkan dan menyebalkan karena dipenuhi kemarahan dan kekecewaan.

Itulah potret kehidupan kita semua. Pada satu sore dalam perjalanan pulang, saya melihat melalui kaca spion, ada mobil yang tidak sabar di belakang saya; ia terus menyalakan lampu untuk memberi tanda ia akan mendahului mobil saya, padahal lalu lintas padat Rasanya sulit bagi saya untuk pindah jalur dan memberi jalan bagi mobil yang tidak sabar itu. Akibatnya, ia kelihatan marah dan mulai membunyikan klakson. Saya yang tadinya tidak geram, tiba-tiba menjadi marah dan geram, saya pun melakukan berbagai cara untuk menahannya maju. Tiba-tiba saya sadar…. mengapa saya begitu bodoh; saat akhirnya saya memberi jalan, tiba-tiba saya merasa lega. Aneh tetapi nyata, saat kita mengalah, justru kita mendapatkan kembali sukacita yang memang seharusnya kita miliki.

Apa yang kamu pelajari dari momen inspirasi saat ini? Ketik & bagikan ceritamu di bagian komentar.

Sumber : Buku Momen Inspirasi oleh Andreas Nawawi

Read More Posts from Momen Inspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *