Serendipity

Serendipity adalah kata dalam bahasa Inggris yang berarti “kekeliruan yang positif”. Kata ini berasal dari ulah pangeran Kerajaan Serendip (kini Sri Langka). Ia melakukan banyak kesalahan, tetapi malah berhasil sehingga negerinya makmur dan sejahtera. Paling tidak, ini adalah kisah dalam dongeng rakyat Persia yang diberi judul “Tiga Pangeran Serendip”. Dari sini, lahirlah kata “serendipity”, yang diambil dari nama kerajaan itu.

Serendipity banyak dijumpai dalam kisah penemuan berbagai makanan dan minuman, seperti:

  1. Teh, ditemukan ketika seseorang merebus air lupa menutup pancinya, dan daun teh jatuh ke dalamnya.
  2. Roti, hingga tahun 27 SM, bentuk roti selalu bundar dan datar, tidak gembung seperti sekarang. Suatu kali, sebelum api dinyalakan seorang budak yang bertugas memanggang roti tertidur karena kelelahan, padahal adonan roti sudah dimasukan ke dalam oven. Karena panas, adonan menggembung dua kali lipat. Si budak segera menyalakan api dengan harapan adonan akan menyusut, tetapi ternyata tidak! Roti langsung matang dengan kulit luar halus mengkilat. Karena waktu makan sudah tiba, “roti salah” itu tetap disajikan dan ternyata semua orang menyukainya. Mulai hari itu, semua orang di seluruh dunia menyukai “roti bengkak salah buat itu”

Banyak orang yang bodoh mengotot menunjukkan bahwa dirinya benar, tetapi sayang, akhirnya mereka kandas dalam keputusasaan. Mengapa mereka tidak mengalah, berhenti sejenak, melihat, dan belajar untuk menerima keadaan? Siapa tahu mereka akan mendapat hasil yang lebih baik.

Apa yang kamu pelajari dari momen inspirasi saat ini? Ketik & bagikan ceritamu di bagian komentar.

Sumber : Buku Momen Inspirasi oleh Andreas Nawawi

Read More Posts from Momen Inspirasi

5 thoughts on “Serendipity

  1. Rio Hutagalung Reply

    Tidak ada kegagalan yang telalu buruk untuk ditangisi. setiap kegagalan bisa saja berarti berkat baru ketika kita mampu mengolahnya dengan cara lebih kresatif

    • Admin Post authorReply

      terkadang memang kita merasa kyknya sia” sudah lakukan sesuatu tapi kok gagal. padahal masih byk yg bisa dilihat setelahnya… contohnya sekolah kok sia” ya, pdhal ilmu dipake nanti pas ud mulai bekerja…

  2. Audi Hambali Reply

    Belajar untuk melihat tidak hanya dengan mata jasmani, tapi juga mata rohani yang go beyond what can be seen by human.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *